Friday, 13 May 2016

Kedatangan Ustadz Yusuf Mansur


Ini pertama kalinya saya melihat Ustadz Yusuf Mansur secara langsung. Pertama kalinya shalat berjama'ah, yang jadi imamnya Ustadz Yusuf Mansur. Ustadz datang untuk ceramah dalam rangka memperingati hari Isra' Mi'raj. Yaitu hari dimana banyak sekali terjadi keajaiban. Nabi Muhammad Saw. melakukan perjalanan dari masjidil haram ke masjidil aqsa, lalu naik ke langit sampai sidratul muntaha. Perintah shalat lima waktu juga diberikan Allah kepada Nabi Muhammad Saw.

Pak Ustadz Yusuf Mansur dan Pak Rektor 

Begitu Ustadz Yusuf Mansur datang, langsung pada berebutan minta salaman. Kemudian adzan berkumandang. Setelah shalat dzuhur berjama'ah, Ustadz pun memberikan ceramahnya tentang shalat. Ternyata shalat itu penting sekali. Dengan shalat kita bisa mengenal Allah. Ibaratnya kalau seorang pekerja atau karyawan, kenal dekat dengan manager. Tentunya karyawan tersebut akan lebih cepat naik pangkat. Apalagi jika si karyawan kenal dengan bos. 


Sebetulnya ceramah pak Ustadz ini ada beberapa kisah yang sudah saya tahu. Karena saya menonton ceramahnya di youtube. Pak Ustadz menyampaikan ceramahnya dengan bercerita, supaya tidak menggurui katanya. Seru sekali ceramahnya, nggak membosankan dan nggak bikin ngantuk. Dan juga menjadi rekor, karena biasanya masjid yang besar itu hanya berisi dua sampai tiga shaf. Ketika pak Ustadz Yusuf Mansur datang, masjid itu full, penuh. Berkah kedatangan pak Ustadz Yusuf Mansur.

Tuesday, 3 May 2016

Rasa Sakit Kehilangan

Patah hati itu apa? Hatinya patah atau bagaimana? Saya search di Google dengan kalimat, "patah hati itu apa?" Patah hati itu ternyata adalah sebuah metafora yang digunakan untuk menjelaskan, mengenai perasaan seseorang, setelah kehilangan orang yang dicintai, bisa hewan atau benda yang disukai, bisa juga penolakan cinta. Intinya berdampak pada perasaan sedih dan kehilangan. Perasaan yang dalam sekali tersebut, membuat kita sakit. Jadi, patah hati seperti itu.

Menurut saya patah hati tidak bisa di definisikan dengan jelas, bagaimana rasanya? Karena begitu sakit. Sebenarnya saya bingung, apakah saya pernah patah hati atau tidak? Dan juga definisi patah hati yang beragam. Karena diminta hanya menceritakan satu pengalaman patah hati. Kalau begitu saya akan cerita mengenai patah hati karena kucing.

image source from pixabay.com

Saat itu, adik saya sedang bermain diluar rumah. Kemudian mereka pulang dan berkata bahwa ada dua anak kucing yang berada di selokan. Saya melihat dua anak kucing itu, kecil dan lucu. Kucing itu dibawa masuk ke rumah. Kita cuci sampai bersih, lalu dilap menggunakan kain. Kucing kecil itu terlihat kedinginan, mungkin karena ia begitu kecil. Kasihan kucing itu, ibunya pergi entah kemana. Si kucing itu lalu mengeong-ngeong, berisik sekali.

Kucing dilap menggunakan handuk. (image source from pixabay.com)

Ibu saya sebenarnya tidak setuju kucing itu dibawa masuk. Bahkan, dengan kejamnya, ibu saya bilang, "Nanti kalau sudah agak besar, dibuang ke pasar, dibuang yang jauh." Kejam sekali. Ternyata ada alasannya ibu saya bilang seperti itu. Memelihara kucing kecil itu merepotkan. Bau kotorannya bikin pusing. Dan lagi, kotorannya berserakan dimana-mana. Makanannya juga berserakan dimana-mana. Ia senang bermain. Meskipun lucu, ibu saya tetap tidak suka dengan kucing. Ibu saya sebetulnya suka kucing, saya tahu itu.

Senjata kucing adalah ia bisa menjadi menggemaskan. Ia juga tidak suka kalau terlalu banyak dipegang-pegang. Bulunya kemana-mana, menempel di kasur. Setelah dua bulan, tubuhnya mulai sedikit membesar. Semakin lucu dan semakin menggemaskan. Bulunya putih lembut, menyenangkan. Ia bahkan sering bertarung. Dua kucing kecil itu, saling menggigit satu sama lain. Lincah sekali gerakannya.

Ia juga mulai berani keluar rumah. Bahkan pernah seharian tidak pulang, apakah mungkin ia tersesat? Entahlah, saya senang karena esoknya ia kembali. Ia pernah bertengkar dengan kucing lain yang ukurannya jauh lebih besar, berkali-kali lipat. Kucing itu begitu besar dan gendut, seperti kucing persia. Saya usir kucing besar itu, menakutkan sekali. Kami lalu bermain di dalam rumah dengan gembira, tanpa adanya gangguan.

image source from pixabay.com

Pagi itu saya melihat ibu saya baru pulang dari pasar. Saya tanya kepada ibu saya, "Ma, kucingnya dimana?" Ibu saya menjawab, "Sudah dibuang ke pasar." Kalimat yang menyakitkan. Saya sakit, begitu sakit. Kucing yang lucu itu dibuang ke pasar. Kata ibu saya, di pasar banyak makanan. Saya tetap tidak terima, kenapa kucing itu dibuang? Biarpun merepotkan, kucing mampu menghilangkan stres, karena ia begitu lucu.

Sekarang ia telah pergi dan takkan pernah kembali. Rasanya begitu sakit, akibat kehilangan ini. Kucing yang menemani selama ini, menghilang dalam pagi yang gelap ini. Selesai sudah hari-hari yang menyenangkan bersamanya. Rasanya kebahagiaan sesaat ini begitu menyenangkan, ya menyenangkan sekali. Terima kasih kucing kecil, engkau telah memberikan kebahagiaan singkat yang begitu menyenangkan. Bersamamu, hari-hari terasa lebih indah.




Sunday, 24 April 2016

Terkena Reader's Block

image source from pixabay.com

Saya akhir-akhir ini terkena reader's block. Seperti writer's block, hal ini juga menghambat saya dalam proses mencapai target membaca buku. Biasanya saya suka membaca buku, tapi kemudian saya mulai bosan dengan yang namanya membaca buku. Banyak sekali penyebabnya, mulai dari buku yang terakhir saya baca, agak kurang menarik perhatian. Kemudian penyebab lainnya, seperti petugas perpustakaan yang kurang menyenangkan.

Ketika saya ingin masuk ke perpustakaan, terhalang oleh ktm (kartu tanda mahasiswa) yang sudah rusak, mengakibatkan saya harus mengetik nim. Setelah itu saya masuk ke perpustakaan, untuk mencari buku novel. Tapi ada masalah lagi, insting saya dalam mencari buku bagus mulai tumpul. Atau karena saya sudah lama tidak ke perpustakaan. Membangun kebiasaan dari awal lagi, setelah meninggalkan kebiasaan. Ternyata memulai itu berat, dibutuhkan kemauan yang kuat.

Saya terkena denda, ini merupakan pengalaman menyakitkan. Biasanya saya tidak pernah terlambat dalam mengembalikan buku. Ternyata, hari itu saya terlambat satu hari. Ini merupakan kesalahan fatal, saya akui. Mungkin karena saya lupa melihat tanggal kembalinya (banyak alasan). Dan akhirnya, saya diharuskan untuk membayar uang dua ribu rupiah. Karena hanya dua ribu, saya lalu mengeluarkan dompet. Di dalamnya tidak ada uang sama sekali, uang recehan pun tak ada. Petugas dengan wajah menyeramkan itu, tetap bersikeras memaksa saya untuk membayar.

Saya katakan dengan tegas, kalau saya tidak punya uang sepeserpun di dompet. Saya tanya, bisakah lewat ktm, karena ktm itu juga berfungsi sebagai kartu kredit. Dia bilang tidak bisa. Kemudian karena dia merasa kasihan dengan saya, akhirnya saya diperbolehkan pergi. Semenjak hari itu, saya jadi mulai malas ke perpustakaan. Padahal dulu saya suka sekali ke perpustakaan. Saya lebih suka perpustakaan SMA, walaupun kecil, tapi menyenangkan dan nyaman. Perpustakaan Universitas, besar, tapi pelayanannya kurang baik. Intinya, pengalaman itu sulit dilupakan.

Kembali ke reader's block. Saya perlahan-lahan mulai membaca buku lagi. Saya paksa diri saya sendiri. Saya mulai meminjam buku-buku di perpustakaan. Walaupun pengalaman itu masih jelas teringat. Dengan segenap kekuatan, saya mulai melakukan kegiatan penting, yaitu membaca buku. Membaca buku itu menyenangkan lho. Jadi, saya katakan dengan jelas, membaca buku itu bukan pilihan, melainkan keharusan.

Friday, 22 April 2016

Penjual atau Pembeli yang Harus Berterima kasih?

Image source from pixabay.com

Siapa diantara penjual dan pembeli yang harus berterima kasih?

Kalau menurut saya, pembelilah yang harus berterima kasih. Misal, anggap saja kita sebagai pembeli. Sebetulnya, yang butuh itu, pembeli atau penjual?

Dua-duanya sama-sama membutuhkan, ok. Siapa yang lebih membutuhkan, penjual atau pembeli? Tentu saja pembeli. Karena pembeli membutuhkan benda atau hal lain tersebut, maka ia rela mengeluarkan uangnya atau hal lainnya untuk membelinya.

Jadi, seharusnya pembelilah yang berterima kasih kepada penjual. Berterima kasih karena tidak ditipu (mudah-mudahan). Berterima kasih karena mendapat benda atau hal yang diinginkan. Berterima kasih karena sudah diperbolehkan membeli benda atau hal yang dijual tersebut.

Jika menjadi pembeli, kita berterima kasih kepada penjual. Jika kita menjadi penjual, kita berterima kasih kepada pembeli. Lalu selanjutnya kita seharusnya berterima kasih kepada Tuhan yang telah memberikan berbagai macam nikmat kepada kita, yang takkan pernah bisa kita hitung sampai kapanpun. Sudahkan kita berterima kasih kepada Sang Pencipta?

Friday, 15 April 2016

Kamu Takut Masa Depan? Baca ini!

Image source from pixabay.com

Masa depan kita kayak gimana? Nggak ada yang tahu. Terus kenapa kita harus takut? Kan masa depan belum pasti, jadi masa depan itu bisa lebih baik. Mulai sekarang hindari membaca ramalan, zodiak, atau golongan darah, dan bla, bla, bla. Itu malah akan mempengaruhi kamu untuk percaya, dan bahkan membuatmu "ketergantungan."

Misalnya, "Ah sial, hari ini gue kayaknya nggak jalan-jalan dulu!" Kenapa? Karena dia telah melihat zodiaknya. Padahal belum tentu seperti itu. Bisa saja harinya itu indah, kalau dia jalan-jalan. Tapi karena percaya pada ramalan, zodiak, goldar dan teman-temannya, jadinya begitu. Oh iya, kamu nggak kayak gitu kan?

Kenapa takut masa depan? Untuk apa takut. Mau sampai kapan takut terus. Ketakukan bukan untuk dilawan, tapi untuk diganti dengan keberanian. Dengan berani mencoba, takut ternyata bisa hilang. Takut itu hanya delusi dari pikiran negatif dan hal-hal yang membuat kita merasa tidak enak. Ternyata ketakutan itu bisa diganti dengan keberanian. 

Image source from pixabay.com

Masa depan ditentukan hari ini. Jadi mulailah mencoba menjadi lebih baik dan lebih berani! Jadilah pemenang!