Sabtu, 06 Juni 2015

Persepsi yang Salah Dari Mahasiswa

Disini saya akan memberitahu persepsi yang biasanya ada pada diri mahasiswa, yang sebenarnya jika ditinjau lebih lanjut, mungkin agak salah dan malah membahayakan. Apa saja persepsi yang salah dari mahasiswa?

mahasiswa

Makan mesti hemat dan irit

Ini merupakan persepsi yang salah dari mahasiswa. Makan mesti irit, bahkan saking iritnya, sehari cuma lima ribu (makan apa tuh?), makannya tempe setiap hari, nasinya dibanyakkin atau buat sendiri. Sebenarnya nggak masalah sih, tapi yang jadi masalah adalah, kalau sakit siapa yang repot? Mahasiswa itu pasti ngekos, kalau nggak ngekos, berarti bukan mahasiswa sejati* (keren nggak?) *sambil ngelap ingus

Kalau sakit demam, tinggal minum panad*l sembuh. Begitu pulang ke rumah atau ke kampung halaman, langsung jadi kurus kering, makan yang banyak buat perbaikan gizi, (ngaku?) Irit dan hemat boleh, tapi nggak berlebihan juga. Sekali-kali ganti menu, atau beli makanan ditempat yang baru. Kalau bisa beli jus buah, biar pencernaan sehat, saya suka jus alpukat (nggak nanya!) Ok fine.

Seminar ngincar sertifikat

Ini nih kebiasaan mahasiswa, ngincar sertifikat biar kelihatan keren. Ngumpulin sertifikat sampai banyak, terus dijadiin pembungkus gorengan disimpan ditempat yang aman. Mengikuti seminar untuk mendapatkan sertifikat sebenarnya tidak salah, tapi tujuannya sebaiknya diganti. Mengikuti seminar karena ilmu yang diberikan. Misalnya gini, ada seorang mahasiswa sebut saja namanya Budi. Dia ingin mengikuti seminar tentang politik.

Padahal dia sama sekali nggak suka politik, tujuan dia ikut seminar yaitu, satu dapet sertifikat, dua dapet makan gratis, ketiga biar eksis. Pas seminar berlangsung si Budi cuma bisa bengong, karena sama sekali tidak paham apa yang disampaikan oleh pemateri. Ketika seminar sudah selesai, si Budi lega sekali. Ternyata diakhir seminar, sertifikat belum selesai, dan harus menunggu. Sudah beberapa minggu, Budi menunggu, ia masih belum mendapatkan sertifikat tersebut. Ia pun mulai lelah menunggu.

Tuh kan, kebayang rasanya menunggu gimana? Nggak enak! Makanya tujuan ikut seminar buat dapet sertifikat sebaiknya diganti, menjadi ikut seminar buat dapet ilmu. Kalau tujuannya buat dapet sertifikat, ternyata nggak dikasih gimana? Ada lho seminar yang tulisannya dapet sertifikat, taunya penipuan, ini mungkin saja terjadi karena ternyata jumlah pendaftar tidak sesuai dengan target yang ditetapkan.

Jadi kalau mau ikut seminar, tujuannya harus diluruskan dulu. Ikut seminar karena ingin ilmunya, jadikan sertifikat sebagai bonus atau pelengkap. Kalau ada seminar gratis, hati-hati! Takutnya nggak dapet makan! Kalau dapet makanan kan lumayan? Selain ilmunya dapet, perut kenyang, hati pun senang.

Duduk didepan angker

Kayaknya kebanyakan mahasiswa nggak ada yang mau duduk didepan, why? Sepertinya duduk didepan itu ada penunggunya. Memang duduk di depan apa salahnya? Sebenarnya saya juga nggak mau duduk didepan, soalnya nggak enak aja, takutnya dapet nilai A, nggak bukan itu alasannya. Alasannya sebenarnya adalah kalau duduk di depan itu, kayaknya perasaan saya nggak nyaman gitu. Karena dari SD, sampai SMA saya selalu duduk di depan, mungkin saya jenuh.

Kecuali kalau disuruh dosennya pindah ke depan, pastinya kita harus duduk didepan. Kalau saya lebih suka duduk ditengah atau dibelakang, karena terasa lebih nyaman. Saya jadi bisa menerima pelajaran yang diberikan oleh dosen dengan lebih baik. Tentunya tempat duduk itu tergantung kenyamanan kalian, kalau kalian lebih suka duduk didepan, bagus. Ikuti apa kata hatimu.

Bisa nyontek kayak biasanya

Kalau sudah kuliah, buat yang biasa nyontek, saya mau bilang hati-hati! Soalnya dikuliah ini, ketahuan nyontek, semua mata kuliah disatu semester nilainya nol! Itu dikampus saya, nggak tahu kalau yang lain. Buat yang terbiasa nyontek bagaimana? Entahlah. Sebenarnya ini merupakan akibat dari kekacauan sistem pendidikan di Indonesia. Sehingga para siswa dari SD sampai SMA sudah terbiasa dengan yang namanya menyontek.

Kalau saya benci menyontek. Dari SD sampai kuliah saat ini, saya tidak terbiasa menyontek. Sekalinya mau menyontek, rasanya tegang sekali, nggak bisa digambarkan dengan kata-kata. Soalnya dulu saya sekolah di SDI swasta, jadi gurunya ngajarnya asik* dan niat banget. Lebih baik berusaha sendiri, daripada melihat hasil kerja orang lain. Makanya kalau ada yang nyontek ke saya, biasanya saya bilangin dulu. Tapi emang dasar temen saya yang ngeyel, makanya dia minta kasih tahu mulu.

Saya kutip kata-kata dari dosen saya:

Belakang, Ki Hajar Dewantara memang dikenal sebagai bapak pendidikan yang integralistik, memposisikan anak didik bukan sebagai objek tetapi sebagai subjek. Pendidikan adalah alat pembebasan dari penindasan. Ki Hajar menolak mentah-mentah pendidikan model kapitalisme yang hanya menjadikan anak didik sebagai pemasok tenaga kerja.

Sayangnya, cita ideal Ki Hajar Dewantara itu jauh dari panggangan api. Hari ini, pendidikan hanya diselenggarakan untuk mencetak buruh, baik itu buruh rendahan maupun buruh berdasi. Hari ini, pendidikan gagal melahirkan entitas kaum terdidik yang pikiran, sikap dan tindakannya melampaui jaman, menjadi role model transformasi sosial.

Di sinilah tantangan serius pendidikan Indonesia dan sekaligus tantangan bagi gerakan buruh. Selamat hari buruh dan selamat hari pendidikan.

*Saran: Jika kalian sudah menjadi orangtua, sekolahkan anak kalian di SD swasta yang bernuansa Islami, saya jamin bakalan kuat mentalnya. Karena ibarat membangun bangunan, pasti dasar yang kuat akan membuat bangunan tersebut sulit dirobohkan. Jadi untuk membuat dasar yang kuat, sekolahkan anak di SD yang paling bagus.